TAKALAR,VIRAL — Perjalanan Abdul Karim Tahir menuju kursi pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Takalar bukanlah cerita yang lahir dalam semalam. Ada proses panjang yang membentuknya: pendidikan pesantren, pengalaman organisasi, dunia pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial dan kepemiluan.
Abdul Karim lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 16 Desember 1979. Kini, ia berdomisili di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar.
Jejak pendidikannya dimulai di SDI Bertingkat I yang ditamatkannya pada 1992. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di MTsN 404 Ujung Pandang dan menyelesaikannya pada 1995.
Namun, salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan hidupnya terjadi ketika Abdul Karim memilih melanjutkan pendidikan ke KMI Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di pesantren tersebut, ia menuntaskan pendidikan pada 1999.
Gontor menjadi lebih dari sekadar tempat menimba ilmu. Lingkungan pesantren membentuk kedisiplinan, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, sekaligus menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya.
Bekal itulah yang kemudian membawanya semakin aktif di tengah masyarakat.
Usai dari Gontor, Abdul Karim melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Alauddin Makassar dan berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2004.
Gelar akademik ternyata bukan menjadi garis akhir perjalanan intelektualnya. Sebaliknya, Abdul Karim justru semakin aktif terjun dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan, pendidikan, organisasi, pemberdayaan, dan kegiatan sosial.
Bibit kepemimpinannya bahkan telah terlihat sejak masih menjadi mahasiswa. Ia dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Adab IAIN Alauddin sebagai Ketua Umum periode 2001–2002.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya dalam membangun kemampuan organisasi dan kepemimpinan.
Dari ruang-ruang pendidikan dan organisasi, Abdul Karim kemudian memperluas pengabdiannya ke tengah masyarakat. Berbagai pengalaman yang dilaluinya menjadi modal dalam memahami persoalan sosial sekaligus membangun komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.
Kini, pengalaman panjang tersebut menemukan ruang pengabdian baru melalui BAZNAS Kabupaten Takalar.
Bagi Abdul Karim, amanah di lembaga zakat bukan sekadar posisi kepemimpinan. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk memastikan potensi zakat dapat dikelola secara baik dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.
Perjalanan dari lingkungan pesantren, bangku perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, hingga aktivitas sosial menjadi rangkaian yang saling terhubung. Semua pengalaman itu membentuk sosok Abdul Karim Tahir yang kini dipercaya mengambil bagian dalam pengelolaan zakat di Kabupaten Takalar.
Perjalanan panjang tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses, pengalaman, pengabdian, serta kesediaan untuk terus belajar dan hadir di tengah masyarakat.
