MAKASSAR, VIRAL – Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) Indonesia kembali menegaskan komitmennya sebagai organisasi intelektual moderat melalui pelaksanaan Dialog Interaktif yang digelar di Hotel Vasaka Makassar, Kamis (14/5/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi ICATT Menuju Organisasi Intelektual yang Responsif terhadap Tantangan Zaman” tersebut berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Ruangan yang berkapasitas sekitar 150–200 orang tampak penuh oleh peserta dari berbagai kalangan alumni Timur Tengah, akademisi, tokoh masyarakat, hingga unsur lintas agama.
Ketua I DPP ICATT, Ihsan Zainuddin, menyebut kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran intelektual anggota ICATT agar lebih aktif hadir di tengah masyarakat dan mampu menjawab tantangan zaman secara konstruktif.
Dialog interaktif menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Mulawarman Hannase, Abd. Rauf Amin, dan Najib Tabhan Syamsurrijal.
Dalam paparannya, Mulawarman Hannase menekankan pentingnya membangun jaringan global di tengah perkembangan teknologi dan isu-isu internasional yang semakin kompleks. Menurutnya, modal intelektual saja tidak cukup tanpa kemampuan membangun relasi strategis di tingkat nasional maupun internasional.
“Ada banyak peluang strategis jika kita berjejaring secara global,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Abd. Rauf Amin menyoroti pentingnya penguatan budaya literasi di kalangan alumni Timur Tengah. Ia mengkritik kecenderungan sebagian intelektual Muslim yang aktif berdakwah namun belum optimal dalam menghasilkan karya tulis dan gagasan yang dapat menjadi rujukan masyarakat.
Ia bahkan menyebut ICATT sebagai “raksasa yang sedang tidur” karena memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Menurutnya, ICATT harus mampu melahirkan pemikiran Islam yang moderat, kontekstual, dan relevan dengan dinamika sosial masyarakat modern.
Adapun Najib Tabhan menegaskan bahwa ICATT perlu hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga kemanusiaan. Ia menilai organisasi intelektual tidak cukup hanya bergerak dalam ruang akademik, tetapi juga harus memberikan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Salah satu pertanyaan datang dari Andi Abdul Hamzah yang mempertanyakan kekhasan dan kontribusi baru ICATT di tengah banyaknya organisasi dan lembaga keagamaan yang telah ada.
Menanggapi hal tersebut, para narasumber menegaskan bahwa kekuatan utama ICATT terletak pada karakter moderasi (washatiyah), tradisi intelektual alumni Timur Tengah, dan pendekatan _maqasid based_ dalam menjawab persoalan keumatan dan kebangsaan.
Selain menjadi forum konsolidasi organisasi, kegiatan ini juga menunjukkan semangat keterbukaan dan dialog lintas elemen bangsa. Kehadiran sejumlah tokoh lintas agama dalam kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen ICATT dalam memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, dan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, ICATT berharap dapat terus berkembang menjadi organisasi intelektual yang responsif, progresif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
